20/02/2019

HIKAM 3 – KEKUATAN TAQDIR

سَـوَ ابِـقُ الْهِمَمِ لاَ تَخـْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ

"Kekuatan himmah-himmah tidak akan mampu mengoyak tirai qadar-qadar."

Sekuat apapun, sesemangat apapun seseorang dalam menggapai cita-citanya maka tidak akan pernah bisa menembus benteng qodar / benteng takdir.

Dalam hal ini sebenarnya yang dimaksud adalah seingin apapun, seambisi apapun manusia menghadap kepada Alloh, menginginkan lebih istiqomah, lebih khusyu', lebih fokus beribadah, menginginkan derajat yang lebih luhur dihadapan Alloh, tetaplah harus melalui fase-fase, harus melalui tingkatan-tingkatan, tetaplah harus melewati proses, tidak melalui suatu adanya akselerasi.

Justru semakin berambisi, maka orang akan semakin turun derajat. Ada orang yang berambisi untuk bisa istiqomah tahajud, ambisi untuk istiqomah sedekah, ambisi untuk lebih khusyu'. Ambisi-ambisi itu justru akan menyebabkan turun derajat. Mengapa? Jika berhasil ambisi tersebut akan menghasilkan kesombongan. Merasa bahwa ibadah ini merupakan prestasi dari seorang hamba. Kalau ada kebanggaan disana berarti ada ujub, ada sombong, berarti turun derajat. Ketika putus amalan tersebut maka akan putus asa. Sombong dan putus asa, sama-sama bukanlah naik, alhasil turun.

Lalu solusinya bagaimana? Adanya akselerasi seorang hamba bisa naik derajatnya dihadapan Alloh swt, adalah apabila Alloh sendiri yang menghendaki.

Lalu kita sebagai seorang hamba harus bagaima? Ya porsi seorang hamba. Bagaimana porsi seorang hamba? Porsi seorang hamba adalah terus berusaha bersungguh-sungguh menghadap kepada Alloh. Berdoa sungguh-sungguh agar diberikan keistiqomahan dalam beribadah kepada Alloh, selebihnya  berserah dirilah kepada Alloh. Biarkan Alloh mengatur kehidupan kita, biarkan Alloh menggerakkan ibadah kita untuk lebih bersungguh-sungguh.

Contoh kecil, ada orang yang ingin mencium hajar aswad pada saat ada di Masjidil Haram. kalau yang dipakai adalah kekuatan diri, apalagi ambisi "Aku harus bisa... itu sunah mencium hajar aswad... aku harus bisa... harus bisa... saya harus bisa menyingkirkan banyak orang itu." Kemudian dia menggunakan kekuatan diri, dan hanya mengandalkan kemampuan diri. Semakin berambisi, yang terjadi adalah dia akan semakin jauh dari hajar aswad, yang terjadi semakin dekat, justru semakin terjadi kekeruhan. Tersikut orang sana-sini sehingga  mental lagi ke belakang.

Lha terus bagaimana solusinya? Manusia itu wilayahnya hanya berusaha, wilayahnya hanya meminta, selebihnya berserah diri kepada Alloh yang maha kuasa.

Contohnya adalah dia berdoa "Ya Alloh... Engkau yang menyunahkan aku mencium hajar aswad... Ya Alloh aku tidak memiliki kemampuan apapun untuk bisa kesana kecuali engkaulah yang memberi kemampuan. Oleh karena itu ya Alloh, saya berserah diri kepada Engkau Ya Alloh..." Berkata seperti itu di dalam hati sembari berjalan. Ada usaha, ada doa, ada berserah diri kepada Alloh. Makin berjalan makin berserah diri kepada Alloh. "Ya Alloh... Engkaulah yang memberikan kekuatan Ya Alloh... maka mampukan saya Ya Alloh...kuatkan saya Ya Alloh.. bantu saya Ya Alloh... lindungi saya Ya Alloh..." tau-tau sudah dihadapan hajar aswad dan bisa menciumnya.

Demikian juga contoh-contoh yang lain. Ada orang kepengin istiqomah sholat tahajud. Makin dia menggunakan kekuatan diri, semakin ada saja yang membuatnya ketiduran dan terlewat untuk sholat tahajud. Jikalau berhasil dia berbangga. Bangga ketika mampu beribadah adalah turun derajat, jika terjadi kegagalan dalam beribadah dia merasa jengkel. Jengkel dalam urusan ibadah juga turun derajat.

Oleh karena itu sebelum tidur berusahalah dengan memasang alarm, kemudian memintalah pertolongan kepada Allah, dan berserah dirilah. Karena esok hari kita masih hidup atau tidak saja kita tidak tau, untuk itu benar-benar berserah dirilah kepada Alloh. Kepasrahan inilah yang menghasilkan power yang luar biasa.

Dalam bahasa kalimah toyyibah adalah  بالله إلا ا قوة ول حول لا .Ketika kita mau menjalani sesuatu, tidak ada daya dan upaya Ya Alloh, kecuali kemampuan itu adalah Engkau yang memberikan, maka dari itu aku berserah diri kepada Engkau.

Dengan begitu orang akan semakin naik derajatnya. Siapa yang menaikkan? Karena kita berserah diri kepada Alloh, maka Allohlah yang menaikkan. Allohlah yang memberikan akselerasi.

Ternyata dalam urusan-urusan yang lainpun sama. Ketika kita menginginkan sesuatu, jangan berambisi. Dalam bahasa sains orang kalau berambisi ada istilah yang namanya fast, ada istilah yang namanya power. Fast itu orang yang semakin berambisi, dalam bahasa jawanya 'kemrungsung', tergesa-gesa mendapatkan sesuatu. Yang terjadi justru adalah apa yang kita inginkan itu akan bertolak belakang dengan keinginan dari kita.

Namun begitu kita berserah kepada yang Maha Kuasa, sembari kita bersungguh-sungguh berupaya dengan maksimal apa yang kita bisa. Maka pelan-pelan kita akan di dekatkan dengan apa yang menjadi doa kita itu.

Demikian dari saya. Saya Kang Riyadh dari Pondok Pesantren Doaqu – Kajian Hikam. Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

+62815-7745-665
Jl. Ngelosari, Sadeng, Gn. Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah 50222
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram