20/02/2019

HIKAM 1 – BERSANDAR PADA AMAL

 

مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ

"Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-raja’ (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana."

Salah satu tanda orang yang mengandalkan amal adalah kurangnya berharap kepada Allah ketika terjadinya ketimpangan dalam amal tersebut. Semestinya kita hanya berharap kepada Allah. Hanya mengandalkan Allah dalam setiap urusan. Ada orang yang menjadikan Allah sebagai Tuhan. Namun, ada juga orang yang menjadikan amal sebagai Tuhan.

Amal itu ada dua. Yaitu amal yang bernuansa ikhtiar dan amal yang bernuansa amal sholeh.

Contoh pertama; Ada seorang supir ojek online mendapatkan seorang calon penumpang. Kemudian, dia mencari alamat calon penumpang kesana kemari. Hingga akhirnya ia menemukan alamat tersebut. Saat penumpang tersebut hendak naik ke dalam mobilnya, tiba – tiba teman dari sang penumpang datang menghampiri dan berkata, “Hei kamu mau kemana? Ikut saya aja”. Alhasil, penumpang tersebut membatalkan pesanan ojeknya dan memilih ikut bersama temannya.

Andaikan kita yang menjadi supir tersebut, sudah mau mendapat penumpang tapi malah tidak jadi. Umumnya, hati kita pasti merasakan sesuatu. Nah, jangan – jangan rasa di hati adalah rasa kecewa pada amal itu. Kenapa kok ada rasa kecewa? Karena boleh jadi, kita bukan mengandalkan Allah sebagai pemberi rezeki. Tapi, kita mengandalkan ikhtiar ojek online itulah sebagai pemberi rezeki. Itu artinya kita bukan menuhankan Allah, tetapi menuhankan ikhtiar. Nah ini bahaya!

Demikian pula dalam hal lain. Kadang kita bukan menjadikan Allah sebagai Tuhan andalan kita. Namun, menjadikan ikhtiar sebagai andalan kita. Buktinya adalahketika ikhtiar itu gagal, maka kita pasti kecewa. Kita tidak mengembalikan kepada Allah. Seharusnya jika tidak jadi menumpang, kita akan berkata, “YaAllah, yang member dan membagi rezeki adalah Engkau. Adanya calon penumpang itu hanyalah lantaran. Kalau tidak jadi kan tidak apa – apa. Pasti nanti ada lantaran yang lain. Yang pasti Engkaulah yang member rezeki, aku hanya berharap kepada Engkau. ”Seharusnya begitu kalau memang kita menuhankan Allah, sebagai satu – satunya Tuhan.

Kemudian amal yang kedua adalah amal – amal sholeh. Persis seperti orang yang –misal-tahajud. Ia menargetkan tahajud itu dalam rangka mempunyai hajat, yaitu melunasihutangataumenginginkanjodoh. Dalamhatiia pun berkata, “Pokoknya kalau saya tahajud tidak ada bolongnya, jodoh pasti datang dan hutang pasti lunas”. Suatu ketika ia ketiduran, sehingga tidak tahajud. Ketika ketiduran dan tidak tahajud itu, ia berkata, “Wah kalau gini caranya tidak mungkin ada jodoh, tidak mungkin hutang lunas”. Nah boleh jadi, ketika itu kita tidak mengandalkan Tuhan, namun mengandalkan tahajud sebagai Tuhan. Padahal seharusnya kita mengandalkan Allah sebagai Tuhan dan tahajud ini merupakan media pendekat kita menuju Allah.

Nah, darisini semoga bisa menjadi bahan renungan. Jadikan Allah sebagai satu – satunya yang kita andalkan, satu – satunya yang kita sembah. Jangan mengandalkan ikhtiar sebagai Tuhan, jangan pula mengandalkan amal sebagai Tuhan. Tampak kita mengandalkan ikhtiar sebagai Tuhan dan tampak kita mengandalkan amal sebagai Tuhan adalah ketika terjadinya gagal ikhtiar dan kita merasa kecewa. Gagal amal sholeh kok kita malah kecewa, kita tidak mengembalikan kepada Allah, kita tidak tetap berharap kepada Allah, maka boleh jadi Tuhan kita bukan Allah, tapi ikhtiar dan amal tersebut.

Silahkan bermuhasabah. Saya muhasabah untuk diri saya sendiri. Dan bila ini penting, silahkan sama – sama bermuhasabah.

Demikian dari saya. Saya Kang Riyadh dari Pondok Pesantren Doaqu – Kajian Hikam. Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

+62815-7745-665
Jl. Ngelosari, Sadeng, Gn. Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah 50222
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram